Studi On Industri Bata Ringan


BAB I
PENDAHULUAN

Bataringan autoclaved aerated concrete (AAC) yang formulanya diketemukan tahun 1923 lalu di Swedia, kemudian dikembangkan lagi oleh Joseph Hebel di Jerman pada tahun 1943.Kini, di Indonesia bataringan sudah marak dipakai di Indonesia, nyaris menenggelamkan pemakaian batabata merah maupun batako di berbagai pelosok kota.  Padahal produk bata milineal ini baru diperkenalkan di Negara kita oleh PT Hebel Indonesia yang beroperasi sejak tahun 1995 lalu, meningkatnya kebutuhan sector properti di Indonesia, seperti pembangunan rumah tinggal, apartemen, mall, perkantoran, pabrik dan gedung–gedung bertingkat, maka kebutuhan bahan bangunan bataringan semakin pesat karena selain kuat, juga memiliki berapa jenis yang relative ringan sehingga aman digunakan untuk bangunan bertingkat maupun perumahan. Bahkan kini, perkembangan bataringan tak hanya dipakai di kota saja, tetapi juga sudah mulai banyak digunakan di pedesaan.
Bataringan (ft:ist)
Data dari Kementerian Perindustrian menyebutkan, saat ini terdaftar 168  perusahaan produsen batubata dalamlingkup nasional. Total jumlah itu memang tidak hanya perusahaan batubataringan, namun bercampur dengan produsen batubata tanahliat   (batamerah) dan batubata dari semen (batako).
Dari total jumlah perusahaan penghasil batubata itu, produsen batubataringan yang tergabung di Asosiasi Proberindo (Perkumpuan Produsen Beton Ringan Indonesia) hanya sekitar 28 perusahaan.  Namun begitu, selain masih ada produsen bataringan skala pabrikan yang belum tergabung di Asosiasi Proberindo, juga masih produsen bataringan skala kecil (UKM) yang memproduksi bataringan secara manual dan penetrasi pasarnya juga menyebar hingga keberbagai pelosokdaerah.

10.1. Kesimpulan dan rekomendasi
Selama tahun 2013-2018, produksi bata ringan  (AAC dan CLC) meningkat dari 6,1 juta m3 menjadi 8,5 juta m3, dengan pertumbuhan rata-rata setiap tahunnya sekitar 8,8%.  Ada pun meningkatnya pertumbuhan bataringan jenis AAC, dikarenakan industry bataringan tergolong baru sehingga selalu ada penambahan kapasitas terpasangnya, baik perluasan pabrik dari produsen yang sudah ada maupun pemain baru dengan merek dagang yang baru pula. Sehingga dengan kapasitas terpasang nasional bataringan  AAC tahun 2018 sebesar 10,7 m3, maka utilitasnya sudah mencapai 60%.

Baca juga
Berdasarkan pertumbuhan permintaan  dalam lima tahun terakhir, maka dalam lima tahun mendatang permintaan terhadap  bata ringan masih akan terus meningkat. Terutama untuk produk baja tulangan beton, mengingat realisasi proyek-proyek pemerintah banyak yang belum tercapai serta banyaknya proyek-proyek property komersial perumahan terintegrasi skala besar (rumahtapak, apartemen, mal danlainnya) seperti Meikarta, Sumarecon, Trans Park, maka Media data memproyeksikan konsumsi bataringan cukup optimis sebesar 10% per tahun, yaitu dari 4,37 juta ton pada 2019 menjadi 8,47 juta ton pada 2023.
Untuk memperoleh data  aktual yang lebih akurat dan feasible bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan usaha tersebut, mediadata telah membuat laporan study/buku. Bagi yang berminat bisa kontak langsung Edu:   


Bagikan




Komentar & Pesan

Nama
Email *
Pesan *
Pesan dan komentar Anda tidak di publikasikan. Terimakasih.
_______________________________________          Adv
__________________________________________________ 
WAKTU SAAT INI:
Follow:
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube   


mediadata.co.id - News & Report   🇲🇨Digahayu RI ke-75