10/09/2019

Gempuran Impor Baja Cina Bikin Collaps Industri Baja Nasional ?



News & review 

NASIONAL  |  INDUSTRI | 
Industri baja sebagai sebagai penopang bagi industri-industri lainnya, kini kondisinya sangat memprihatinkan karena adanya berbagai persoalan dan tantangan yang kurang berpkihak pada pertumbuhan industrinya, terutama disebabkan oleh terjadinya gempuran impor produk baja asal China. Dampaknya, tak kurang  1.300 Karyawan Krakatau Steel terancam pemutusan hubungan kerja (PHK), yaitu mulai 1 Juni 2019 sebanyak 300 karyawan outsource dirumahkan dan berlanjut hingga 1 Juli dengan merumahkan 800 karyawan. Angka itu dilaporkan belum termasuk karyawan organik di BUMN baja tersebut
Data yang dirilis South East Asia Iron and Steel Insitutue (SEAISI) pada 2018 menunjukkan bahwa konsumsi baja nasional pada 2017 mencapai 13,59 juta ton. Angka tersebut naik 7,26% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski konsumsinya meningkat, pangsa pasarnya masih dikuasai oleh produk impor yang mencapai 52%, sedangkan sisanya dari produk dalam negeri yaitu sebesar 48%.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Yerry Idroes mengatakan, hingga kuartal I/2019 importasi besi dan baja masih membanjiri pasar dalam negeri. Dengan mengutip data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), dia menyebutkan bahwa impor besi dan baja mencapai 2,7 juta ton. Sehingga, terjadi peningkatan jumlah importasi sebesar 14,65% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Yerry Idroes seperti dikutip dari Bisnis Indonesia menyebutkan bahwa kondisi industri baja nasional mengalami permasalahan dan tantangan sebagai berikut;
Produk baja China leluasa masuk RI
Salah satu hal yang memicu Indonesia menjadi negara tujuan ekspor produsen baja dari China ialah karena adanya kebijakan proteksionisme dari Pemerintah AS terhadap produk China. Hal itu menyebabkan produk baja yang tadinya diekspor ke AS, beralih ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meskipun demikian, catatan SEAISI menunjukkan bahwa volume impor baja ke beberapa negara di Asia Tenggara pada kuartal I/2018 mengalami penurunan dibandingkan dengan realisasi impor pada kuartal I/2017.
Namun, hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Pada kuartal I/2018, volume impor baja dari China naik 59% dibandingkan dengan realisasi impor pada kuartal I/2017. Adanya kemudahan produk impor untuk memasuki pasar dalam negeri sebagai dampak free trade agreement (FTA) semakin membuat Indonesia dibanjiri oleh produk impor baja dari China.
Baja impor ternyata tak bayar bea masuk
Situasi gempuran impor dari China tersebut, semakin diperburuk dengan adanya kondisi overcapacity yang terjadi di China, serta maraknya praktik circumvention, yaitu praktik pengalihan kode HS dari baja karbon ke baja paduan. Caranya, adalah dengan menambah sedikit unsur paduan seperti boron atau chromium ke dalam baja sehingga produk baja tersebut dapat dikategorikan sebagai baja paduan.
Saat ini produk baja paduan yang diimpor ke Indonesia tidak membayar bea masuk MFN karena tarifnya 0% dan tidak membayar bea masuk trade remedies. Menurutnya, praktik circumvention ini semakin disukai oleh produsen baja dari China karena adanya kebijakan tax rebate sebesar 105- 13% yang membuat produk baja paduan dari China lebih murah. Praktik tersebut pun akhirnya mulai diikuti oleh negara-negara lain seperti Jepang dan Korea.

Kapasitas Produksi Baja Domestik Diklaim Masih Cukup
Kajian Industri Baja oleh Media
Untuk mengetahui kondisi industri baja secara komprehensif, mediadata telah membuat laporan kajian : PERKEMBANGAN KINERJA INDUSTRI BAJA KONSTRUKSI DI INDONESIA, September 2018 (Dilengkapi data Importir menurut volume dan nilai dari nomor HS potensial) dan kajian INDUSRI BAJA PROFIL (STEEL STRUCTURE) DI INDONESIA, Januari 2019. Bagi yang berminat bisa langsung kontak Edu

Penawaran Buku

Penawaran Buku