Meski hilirisasi mineral bauksit menjadi alumina dan aluminium menunjukkan perkembangan yang pesat, namun saat ini dari kebutuhan aluminium primer Indonesia sebesar 1,28 juta ton per tahun baru dipenuhi pasar domestic sekitar 46% oleh Perusahaan BUMN PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Selebihnya sebanyak 54% masih dipasok dari impor, Sehingga defisit kebutuhan alumunium ini menjadi peluang bagi investor baru, untuk membangun fasilitas peleburan aluminium di dalam negeri.
Selain itu, tren permintaan aluminium nasional diproyeksikan akan melonjak hingga 600% dalam 30 tahun ke depan. Peningkatan ini didorong oleh sektor industri transportasi, termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV), konstruksi, elektrikal dan energi baru terbarukan (EBT), seperti panel surya dan lainnya.
Kapasitas Produksi Pertahun Capai 1,28 Juta Ton
Hingga kini, terdapat tiga produsen aluminium yang beroperasi di dalam negeri dengan total kapasitas produksi 1.275.000 per tahun. Tiga produsen aluminium itu tersebar di provinsi Sumatera Utara, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Utara.
Produsen perintis peleburan aluminium di Indonesia adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang mulai beroperasi tahun 1983. Semula Inalum yang didirikan tahun 1976 ini, merupakan perusahaan dengan status PMA dan menjadi BUMN sepenuhnya pada tahun 2013. Selain aluminium batangan (ingot), Inalum juga memproduksi aluminium billet dan alloy, Sementara sumber energi listrik dipasok dari PLTA Sigura-gura dan Tangga di Paritohan.
Inalum merupakan salah satu perusahaan dibawah holding industri pertambangan BUMN, yaitu Mineral Industri Indonesia (MIND ID), yang saat ini juga tengah membangun peleburan aluminium berkapasitas 600.000 ton per tahun dan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat dengan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun. Pabrik peleburan aluminium di Mempawah ini dijadwalkan mulai beroperasi tahun 2029.
Sementara itu, produsen aluminium PT Hua Chin Aluminum Indonesia (HCAI) merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Huafon Group dan Tsingshan Holding Group, berlokasi di Kawasan Industri IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah. HCAI mengoperasikan fasilitas peleburan aluminium dengan kapasitas produksi 500.000 ton per tahun dan anoda karbon dengan kapasitas produksi 250.000 ton per tahun.
Bahan baku yang digunakan HCAI adalah alumina dengan kadar 96% yang diproses menjadi aluminium ingot. Sementara energi listrik dipasok dari PLTU Captive sebesar 380 MW. Sedangkan fasilitas produksi peleburan terdiri dari 352 tungku reduksi elektrolitik dengan teknologi ramah lingkungan. Produk aluminium dari HCAI diekspor ke Eropa dan Tiongkok.
Fasilitas peleburan aluminium yang ketiga dioperasikan PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) dan berlokasi di PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) Kalimantan Utara. Smelter ini dirancang untuk produksi penuh mencapai 1,5 juta ton per tahun. Sedangkan bahan baku alumina dipasok dari pasar domestik.
KAI telah mulai memaksimalkan operasi tungku peleburan aluminium secara bertahap. Fase pertama pabrik peleburan ini didukung PLTU captive 1,1 GW. KAI berencana untuk mengembangkan produksi aluminium sebesar 1,5 juta ton per tahun dalam tiga fase. Dua fase pertama sepenuhnya menggunakan PLTU captive, dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun pada kuartal pertama tahun 2025, dan tambahan 500 ribu ton per tahun pada kuartal keempat tahun 2026. Fase ketiga dengan kapasitas produksi 500.000 ton per tahun akan menggunakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Mentarang berkapasitas 1.375 MW dan dijadwalkan beroperasi pada kuartal keempat 2029.
Pemegang saham mayoritas PT KAI adalah PT Alamtri Indo Aluminium tercatat dengan kepemilikan 65%. Kemudian Aumay Mining Pte. Ltd. memegang 22,5% saham dan PT Cita Mineral Investindo (Harita Grup) sebagai pemegang saham 12,5%. Secara keseluruhan, jumlah saham beredar mencapai 7,41 juta saham dengan nilai Rp 7,41 triliun.
Tabel – 1
Smelter Aluminium di Indonesia, 2026
 |
Sumber : Mediadata
|
Proyek Baru Smelter Aluminium
Kebijakan moratorium pembangunan smelter aluminium di Tiongkok telah mendorong beberapa investor untuk membangun smelter aluminium di Indonesia. Seperti diketahui, pemerintah Tiongkok telah menerapkan pembatasan kapasitas produksi tahunan sebesar 45 juta ton dan mengurangi target pertumbuhan sektor logam dasar menjadi rata-rata 1,5% per tahun. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengendalikan emisi karbon, mengelola pasokan dan menekan konsumsi listrik yang masif.
Untuk itu, pada Februari 2026, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek smelter Inalum di Mempawah Menurut perhitungan Danantara, total investasi untuk pembangunan smelter aluminium itu mencapai US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 40,21 triliun. Sedangkan investasi untuk smelter grade alumina refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah mencapai US$ 890 juta atau sekitar Rp 14,9 triliun.
Sementara itu, rantai pasok pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina-aluminium terintegrasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton alumina per tahun yang selanjutnya diolah menjadi aluminium dengan kapasitas produksi 600.000 ton per tahun.
Melalui proyek ini, kapasitas produksi alumina dari PT Borneo Alumina Indonesia akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun. Bijih bauksit yang dipasok ke proyek milik Inalum ini dipasok dari tambang bauksit Antam di Mempawah dan Landak.
Untuk proyek Inalum pada New Smelter Aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, serta ekspansi smelter di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, Inalum membutuhkan tambahan pasokan listrik dari PT PLN. Saat ini, Inalum telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3x25 MW untuk memasok proyek Smelter Grade Aluminium Refinery (SGAR) Fase 1.
Sementara itu, untuk tambahan kapasitas melalui proyek SGAR Fase 2, Inalum membutuhkan tambahan pasokan listrik sebesar 2x25 MW, sehingga total pasokan listrik untuk proyek SGAR Mempawah sebesar 125 MW.
Sedangkan kebutuhan pasokan listrik untuk New Smelter Aluminium di Mempawah mencapai sekitar 932 MW dengan target instalasi 1,2 GW. Proyek integrasi SGAR dan smelter aluminium ini dijadwalkan rampung 2029, sehingga kebutuhan listrik harus tersedia pada akhir 2028.
Proyek East Hope Group melalui PT Westerfield Alumina Indonesia di Kalimantan Barat dalam tahap pembangunan konstruksi dan fasilitas pendukung. Proyek hilirisasi ini dibangun dalam tiga fase, dengan target total kapasitas mencapai 6 juta ton alumina dan 2,4 juta ton aluminium per tahun. Pada fase pertama tahap produksi ditargetkan dengan kapasitas 1 juta ton per tahun,
Untuk mendukung operasional, East Hope Grup dan PLN UP3 Sanggau telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) untuk pemenuhan kebutuhan daya sebesar 345.000 VA. Selain itu, perusahaan terus mematangkan perizinan operasional, termasuk untuk Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI) Kawasan Industri Alumina Toba.
Sementara itu, pada 19 Januari 2026, Nanshan Grup memulai pekerjaan persiapan untuk fase pertama Proyek Aluminium Elektrolitik dengan kapasitas produksi 250.000 ton per tahun dan perkiraan investasi awal sekitar US$ 440 juta selama periode konstruksi dua tahun. Proyek aluminium ini berdekatan dengan pabrik alumina Grup yang dioperasikan PT Bintan Alumina Indonesia. Sehingga memungkinkan sinergi operasional di dalam kawasan industri.
Nanshan Grup juga merencanakan proyek untuk kapasitas tambahan sebesar 500.000 ton dalam jangka menengah. Sedangkan pada jangka panjang, Nanshan Grup akan meningkatkan kapasitas produksi aluminium secara bertahap, dengan tujuan menyesuaikan kapasitas produksi aluminium dengan kapasitas produksi aluminanya.
Investor lainnya yang akan membangun peleburan aluminium adalah PT Bosai Minerals Group, di Pasuruan, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 600.000 ton per tahun. Fasilitas peleburannya dibangun dengan investasi senilai Rp 25 triliun. Sementara untuk pengadaan listrik dipasok oleh PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur dengan daya sebesar 1.260 MVA. PT Bosai Minerals Group akan menjadi pelanggan Konsumen Tegangan Ekstra Tinggi (KTET) pertama PLN di Jawa Timur.
Sedangkan Tsingshan Grup membangun pabrik peleburan aluminium di IMIP Morowali, Sulawesi Tengah dan Weda Bay di Maluku Utara, masing-masing dengan kapasitas 250.000 ton per tahun.
Tabel – 2
Proyek Baru Smelter Aluminium, 2026
 |
| Sumber : Mediadata |
2025 Ekspor Aluminium Ingot US$ 1,38 miliar
Selama 2020-2025, ekspor aluminium ingot Indonesia meningkat dari 59.500 ton senilai US$ 100,7 juta pada 2020 menjadi 511.178 ton dengan nilai US$ 1,38 miliar pada tahun 2025. Kecenderungan meningkatnya ekspor aluminium ingot ini sejalan dengan bertambahnya kapasitas produksi di dalam negeri.
Dengan asumsi, sekitar 20% volume ekspor aluminium ingot tercampur dengan aluminium billet, maka total volume ekspor aluminium ingot sepenuhnya mencapai 408.942 ton pada tahun 2025.
Sementara itu, memasuki tahun 2026, selama Januari-April, ekspor aluminium ingot telah mencapai 227.203 ton dengan nilai US$ 743,8 juta. Dalam kurun waktu itu, harga rata-rata (FOB) aluminium ingot melonjak menjadi US$ 3.273,65 per ton. Hal ini sebagai dampak terhambatnya pasok aluminium di pasar global dari kawasan Timur Tengah.
Tabel – 3
Perkembangan Ekspor Aluminium Ingot, 2020-2026*).
 |
| *) Januari-April - Sumber : BPS/Mediadata |
•Binsar
BACA JUGA: