PERKEMBANGAN HILIRISASI MINERAL BAUKSIT
Untuk meningkatkan nilai tambah, sejak Juni 2023, pemerintah menetapkan larangan ekspor bijih bauksit. Hal tersebut sesuai dengan upaya dan mendukung hilirisasi yang diamanatkan Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Undang – Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Menurut Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), saat ini Indonesia memiliki sekitar 7,7 miliar sumber daya bijih bauksit dan cadangan bijih bauksit sekitar 2,86 miliar ton. Dengan sumber daya dan cadangan tersebut, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan cadangan bijih bauksit terbesar ke-4 secara global. Namun dengan cadangan yang sangat besar, sektor hilirisasi bauksit belum terlalu berkembang dibandingkan dengan hilirisasi nikel. Hilirisasi bauksit sangat bergantung pada energi listrik besar dan murah, sementara biaya listrik saat ini masih kurang kompetitif dibanding negara lain. Menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), investasi smelter alumina aluminium sangat mahal dan berisiko tinggi. Sehingga ekosistem industri turunan hilirisasi bauksit belum terbentuk kuat. Seperti diketahui, hilirisasi bauksit di Indonesia berfokus pada pengolahan bijih bauksit menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) yang kemudian diolah menjadi logam aluminium. Produk turunan ini digunakan dalam industri otomotif, pesawat terbang, kabel listrik, konstruksi dan bahan kimia. Sedangkan Chemical Grade Alumina (CGA) antara lain digunakan untuk water treatment. Kapasitas produksi smelter grade alumina (SGA) mencapai 8,75 juta ton per tahun Hingga kini, terdapat lima pabrik smelter alumina yang telah beroperasi dengan total kapasitas produksi SGA sebesar 8,75 juta ton per tahun dan CGA sebesar 300.000 ton per tahun. PT Well Harvest Winning Alumina Refinery dengan total kapasitas produksi 2 juta ton menjadi produsen SGA pertama yang mulai produksi pada tahun 2016. Smelter alumina ini dioperasikan melalui kerjasama China Hongqiao Group Co. Ltd. dengan kepemilikan saham 56%, PT Cita Mineral Investindo 30%, Winning Investment (HK) Company Limited 9% dan Shandong Weiqiao Aluminium & Electricity 5%. Produsen pertama di Indonesia yang memproduksi SGA ini, memiliki fasilitas pendukung seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan terminal khusus kegiatan bongkar muat berstandar Internasional. Pembangunan proyek tahap pertama dimulai pada Juli 2013 dan kegiatan produksi sepenuhnya dioperasikan pada Juni 2016. Sementara itu, PT Bintan Alumina Indonesia yang dioperasikan Nanshan Grup mulai produksi komersial tahun 2021 dan secara konsisten memajukan pembangunan kapasitas, melalui Proyek Produksi Alumina Baru yang dilaksanakan secara efisien dalam dua fase: satu juta ton alumina per tahun pertama mulai beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2025. Kemudian, satu juta ton alumina per tahun kedua telah dioperasikan pada kuartal keempat tahun 2025. Sehingga kapasitas produksi alumina tahunan yang dirancang Grup telah mencapai 4 juta ton dan merupakan salah satu produsen alumina terbesar di Asia Tenggara. Pemegang saham mayoritas Bintan Alumina Indonesia adalah Nanshan Aluminium International Holdings Limited dan selebihnya Press Metal Grup, Malaysia (20,62%). PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) juga merupakan perusahaan pengelola dan pengembang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, yang berlokasi di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Smelter grade alumina ketiga dioperasikan PT. Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Mempawah, Kalimantan Barat. Pemegang saham Borneo Alumina Indonesia, masing-masing PT. Indonesia Asahan Aluminium/Inalum (60%) dan PT Aneka Tambang (40%). Smelter Fase 1 ini memiliki kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta ton per tahun. Selain sebagai pemegang saham, PT. Aneka Tambang sekaligus menjadi pemasok washed bauxite. Sedangkan Inalum sebagai pemegang saham juga menjadi offtaker produk SGA yang dihasilkan BAI. Sementara PT Pelindo sebagai mitra yang melayani aktivitas bongkar muat raw material dan produk. Dan PT Singeri Mitra Lestari (Grup MIND ID) sebagai mitra pengangkutan Sisa Hasil Pengolahan. Sebagai kontraktor EPC yang membangun pabrik alumina digarap China Aluminium International Engineering Corporation Limited (Chalieco) dan PT PP. Pabrik alumina dengan status BUMN ini mengolah 3,3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton produk smelter grade alumina (SGA). Pabrik alumina BAI Fase 1 ini menghubungkan rantai pasokan antara mineral bijih bauksit di Kalimantan Barat yang di produksi PT Aneka Tambang dan smelter aluminium Inalum di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Seperti diketahui, peresmian injeksi bauksit perdana SGAR Mempawah Fase 1 ini telah dilakukan pada September 2024. Injeksi mineral bijih bauksit sendiri merupakan rangkaian pertama dalam proses produksi alumina dengan target produksi alumina pertama pada November 2024. Sedangkan proses commissioning atau uji coba telah dilakukan bertahap dengan kenaikan produksi bertahap atau ramp up production hingga Desember 2024. Proyek SGAR Fase 1 memasuki tahap produksi penuh alumina pada kuartal I-2025, dengan Commercial Operation Date (COD) atau operasi komersial pada akhir Februari 2025 dan pelaksanaan trial shipment perdana ke PT Inalum pada April 2025. Selama tahun 2025, BAI melaksanakan sebanyak 16 kali trial shipment, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Hingga 31 Desember 2025, total produksi alumina yang dihasilkan BAI mencapai 294.795 ton. Proyek SGAR Fase 1 di Mempawah, Kalimantan Barat ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan investasi senilai US$ 900 juta (Rp 13,96 triliun). Setelah Fase 1, proyek SGAR ini akan dilanjutkan ke Fase 2 yang juga memiliki kapasitas produksi alumina hingga sebesar 1 juta ton per tahun, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2028. Melalui pengoperasian pabrik alumina Fase 1 dan Fase 2, kapasitas produksi PT. Borneo Alumina Indonesia akan meningkat menjadi sebesar 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bijih bauksit mencapai 6 juta ton per tahun. Pembangunan pabrik alumina Fase 2 ini sejalan dengan rencana Inalum untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminium hingga mencapai 900.000 ton per tahun. Saat ini Inalum, mengoperasikan smelter aluminium dengan kapasitas produksi sebesar 275.000 ton per tahun yang seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Sedangkan kebutuhan aluminium dalam negeri saat ini mencapai 1,2 juta ton per tahun dan sejak tahun 2018 hingga tahun 2023, kebutuhan aluminium dalam negeri masih didominasi oleh produk impor dengan porsi sebesar 56% dan pasokan dari Inalum sebesar 44% pada tahun 2023. Pabrik alumina keempat adalah PT Borneo Alumindo Prima (BAP). BAP merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) afiliasi Hangzhou Jinjiang Group Co.Ltd.,China, yang membangun smelter pengolahan bauksit menjadi alumina di Ketapang, Kalimantan Barat. Pada tahun 2026, BAP telah memasuki fase peningkatan produksi (ramp up) dengan kapasitas produksi 1,75 juta ton. Pemegang saham Borneo Alumindo Prima masing-masing adalah Hangzhou Jinjiang Group lewat afiliasinya HC-Asia Pacific Holdings Pte.Ltd. (80%) dan Top Celestial Holdings Pte. Ltd. (20%). Salah satu pemasok bauksit untuk BAP adalah PT Cita Mineral. Per Desember 2025, PT. Cita Mineral telah melakukan penjualan bijih bauksit ke PT Borneo Alumindo Prima (BAP) yang merupakan sebagian dari hasil produksi dari wilayah tambang Sandai. Selain smelter grade alumina (SGA), hingga kini, terdapat satu produsen chemical grade alumina (CGA) yaitu PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) dengan kapasitas produksi 300.000 ton per tahun dan berlokasi di Tayan, Kalimantan Barat. CGA pada umumnya merujuk pada produk kimia dalam bentuk aluminium hidroksida dan alumina yang digunakan untuk berbagai aplikasi industri kecuali industri aluminium. Aluminium hidroksida adalah produk setengah jadi yang dapat digunakan untuk pemurnian air. Sementara alumina dapat digunakan untuk memproduksi komponen pendukung elektronik. Beberapa produk yang menggunakan CGA di antaranya adalah refractoriness (bahan tahan panas), abrasif, produk rakitan, integrated circuit (IC), serta bahan dasar untuk layar LCD. Konstruksi pabrik CGA Tayan dimulai April 2011 dan pada tahun 2014, pabrik CGA Tayan berada dalam tahapan commissioning. Pada awal tahun 2015 pabrik CGA Tayan memasuki fase operasi komersial. Dalam perkembangannya, selama 2015-2018, operasi produksi dari PT. ICA tidak berjalan mulus. Seiring dengan hal tersebut, pemegang saham perusahaan secara intens melakukan diskusi mengenai keberlanjutan operasi ICA. Pada 29 Mei 2018, Antam dan Showa Denko KK (SDK) menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) sebagai bagian dari restrukturisasi kerjasama di ICA. CSPA sendiri merupakan langkah progresif bagi keberlanjutan usaha PT ICA, dimana CSPA menjadi dasar kesepakatan terkait dengan keluarnya SDK selaku pemegang saham. Setelah beberapa kali mengalami perubahan, kini Antam menjadi pemegang saham sepenuhnya PT ICA. Sebelumnya saham ICA masing-masing dipegang Antam (80%) dan Showa Denko KK (20%). Tabel – Pabrik alumina dan kapasitas produksi menurut perusahaan, 2026
Pabrik alumina tahap konstruksi Berdasarkan catatan Ditjen Minerba, terdapat enam pabrik alumina dalam tahap konstruksi dengan kebutuhan kapasitas input bauksit sebesar 20,38 juta ton per tahun dan kapasitas output alumina sebesar 7,48 juta ton per tahun. PT Kalimantan Alumina Nusantara (PT KAN) adalah perusahaan patungan yang mayoritas sahamnya (80%) diakuisisi oleh Press Metal Group (Press Metal International Resources (HK) Limited) pada September 2024, sebagai bagian dari pengembangan smelter alumina di Sanggau, Kalimantan Barat. Sisa saham dipegang oleh mitra lokal, yaitu PT Alakasa Alumina Refineri (AAR) dan PT Dinamika Sejahtera Mandiri (DSM). Press Metal Aluminium Holdings merupakan produsen aluminium terbesar di Asia Tenggara yang berbasis di Malaysia, dengan kapasitas produksi sekitar 1,08 juta ton per tahun. Selain itu, Press Metal juga memiliki saham efektif 5% di Worsley UJV di Australia. Per April 2026, Press Metal memiliki investasi pada dua aset alumina di Indonesia, masing-masing memiliki saham 20,62% di Nanshan Aluminium International Holdings Limited (NAIHL) dan saham 80% di PT Kalimantan Alumina Nusantara. NAIHL sendiri merupakan pemegang saham mayoritas pada PT. Bintan Alumina Indonesia. Pembangunan kilang PT KAN berjalan sesuai rencana dengan pengoperasian tahap pertama berkapasitas satu (1) juta ton dijadwalkan pada tahun 2027. PT KAN telah memperoleh izin fasilitas kawasan berikat dari Bea Cukai, yang bertujuan meningkatkan daya saing, ekspor, dan mendukung hilirisasi pemerintah. Selanjutnya adalah PT Supreme Alumina Indonesia (SAI) yang merupakan anak perusahaan PT Laman Mining dan tengah membangun smelter grade alumina di Kalimantan Barat dengan kapasitas 2 juta metrik ton per tahun. Proyek ini didukung oleh Grup Bakrie (melalui akuisisi oleh Bumi Resources) dan dijadwalkan konstruksinya dimulai pada kuartal II-2026, yang akan menjadi bagian dari diversifikasi portofolio mineral bauksit perusahaan.
PT Dharma Inti Bersama (DIB) yang merupakan bagian dari Harita Grup merencanakan pembangunan pabrik alumina dengan kapasitas produksi 2 juta ton per tahun. Alumina yang diproduksi selanjutnya diolah menjadi aluminium melalui PT Kayong Aluminium Nusantara dengan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun dan dijadwalkan mulai beroperasi tahun 2028. Proyek yang digarap PT. Dharma Inti Bersama ini berlokasi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Desa Pelapis, Kecamatan Pulau Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat dan merupakan proyek strategis nasional (PSN) yang ditetapkan pada tahun 2024, kemudian diperbarui tahun 2025, serta masuk dalam Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik smelter akan dipasok dari PT Kayong Power Nusantara. Sementara itu, pada awal Februari 2026, Mind ID menetapkan proyek hilirisasi bauksit-aluminium terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. Hal ini ditandai dengan groundbreaking proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan smelter kedua aluminium PT Inalum. Total investasi dari proyek terintegrasi ini, termasuk proyek SGAR Fase 1 yang telah beroperasi, SGAR Fase 2, smelter aluminium kedua Inalum, dan pembangkit listrik di Mempawah, Kalimantan Barat ini diperkirakan mencapai Rp 104,5 triliun. Belakangan, salah satu perusahaan yaitu PT Quality Sukses Sejahtera tersangkut kasus korupsi yang tengah ditangani Kejaksaan Agung. Selain ketujuh perusahaan tersebut, terdapat beberapa proyek pabrik alumina, antara lain PT Tianshan Alumina Indonesia, PT Westerfield Alumina Indonesia (East Hope Group), PT Sumber Bumi Marau, PT Kalbar Bumi Perkasa, PT Progressive Indonesia Alumina, PT Green Indonesia Alumina, PT Banten Anugerah Industri Kemajuan dan PT Phoenix Alumina Industri. Tabel – Pabrik alumina tahap konstruksi dan kapasitas input-oyput menurut perusahaan, 2026
*) phase II
**) perkiraan
Sumber : Ditjen Minerba/Mediadata
Ekspor alumina raih devisa US$ 2,33 miliar Selama tahun 2020-2025, ekspor alumina Indonesia menunjukkan peningkatan yang berarti dari 907.804 ton senilai US$ 258,8 juta pada tahun 2020 melonjak menjadi 5,26 juta ton dengan nilai US$ 2,33 miliar pada tahun 2025. Pada tahun 2025, dengan volume ekspor alumina sebesar 5,26 juta ton, maka sekitar 63,3% produksi alumina dari total kapasitas produksi alumina (SGA dan CGA) yang sebesar 8,3 juta ton per tahun, ditujukan untuk pasar ekspor. Kecenderungan meningkatnya ekspor alumina sejalan dengan bertambahnya pabrik alumina dan kapasitas produksi dari beberapa produsen, seperti PT. Bintan Alumina Indonesia dan PT Borneo Alumindo Prima. Menurut jenisnya, sebagian besar ekspor merupakan produk smelter grade alumina (SGA) dan selebihnya chemical grade alumina (CGA). Ekspor alumina terbesar ditujukan ke beberapa negara, antara lain Malaysia, China, India dan Rusia. Tabel - Perkembangan ekspor alumina menurut volume dan nilai, 2020-2025
Sumber : BPS/Mediadata
•Binsar

Sumber: mediadata.






