4/10/2019

Bataringan Ngegas Produksi




Kala Beton Raihkan Rp 276 Milyar

NASIONAL  |  INDUSTRI

Bataringan 2019 menarget 400-500 kubik/ hari.

"Untuk produk kita seperti bata ringan produksinya tahun ini kita naikin 100 persen lebih yah. Jika 2018 itu 200 kubik, tahun ini targetnya 400-500 kubik per hari karena memang permintaannya banyak, mulai dari wilayah Sulsel hingga Papua," hal itu diungkapkan COO Kalla Beton, Syam'un Saebe disela Sharing Session di Kafe Anomali, Makassar, Rabu (30/1/2019) yang lalu. 

Berindikasi demikian, jelas bataringan menjadi sangat diperlukan dalam tahun 2019. Penambahan produksi itu juga seiring dengan banyaknya bangunan yang mulai beralih dari bata merah menggunakan bata ringan. Keunggulannya, bata ringan tidak membebani struktur bangunan, kualitasnya halus, serta ukuran yang pas.


Untuk ready mix khusus beton, di Makassar ada dua titik pabrik yakni KIMA dan Tanjung Bunga. Karenanya pemasaran hanya di wilayah Makassar.
Meski begitu, ready mix merupakan core bisnis perusahaan yang menyumbang sekitar 60 persen dari total penjualan. Disusul bata ringan 35 persen, dan sisanya produk lain.
Tahun ini Kalla Beton menargetkan raihan omset hingga Rp 276 miliar. Target tersebut untuk semua penjualan produk yang dipasarkan Kalla Beton.

Marketing Dept Head Kalla Beton, Syatir menuturkan selain menambah kapasitas produksi serta peningkatan mutu produk dan pelayanan, perseroan juga menjalin kerja sama dengan asosiasi REI Sulsel dan sejumlah pengembang besar.

"Kalau untuk kualitas masing-masing produk memang sudah berstandar ISO sehingga masyarakat tidak perlu meragukannya lagi,” katanya.
Revolusi Industri
Membawakan tema Revolusi Industri 4.0 Pada Bidang Konstruksi dengan Light Weight Construction Metal, PT Citicon Nusantara Industries membahas tentang peralihan serta pengenalan karakteristik material-material baru yang lebih efisien dalam bidang konstruksi. Dihadiri oleh para mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil, PT Citicon membawakan dampak dari era revolusi industri 4.0 terhadap material konstruksi di Indonesia. Sebab, sebagai mahasiswa yang begitu dekat dengan dengan pelaksanaan praktis, perlu adanya wawasan khusus serta mendalam terkait perkembangan dan peralihan jenis material lama ke material jenis baru. Terlebih, di Indonesia sendiri pengenalan jenis material baru oleh masyarakat masih kurang dipahami dengan baik.

Dini Fitrisari, Marketing Manager PT Citicon Nusantara Industries, menjelaskan bahwa material tersebut bernama bata ringan aerasi atau Autoclaved Aerated Concerete (AAC). Material ini merupakan material pengganti dari bata konvesional sebagai bagian dari konstruksi sebuah bangunan. Ditemukan pertama kali pada 1923 oleh Ericson, AAC yang masih memiliki kekurangan ini disempurnakan oleh Joseph Hebel. Hingga pada 1955, material ini baru memasuki Indonesia, meskipun pada saat itu masih belum terdapat pabrik lokal yang memproduksinya. “Baru pada 2008, PT Citicon sebagai perusahaan pertama yang bergerak dalam proses produksi material AAC ini didirikan di Indonesia,” jelas wanita yang kerab disapa Dini ini.
©sumber:its.ac.id/tribunnews/ist



    •  🔴