.









09/11/19


Penguasa Tambang Emas RI 'Melaju' Produksinya
Industri


Pulau-pulau di NKRI memiliki beragam kekayaan, itu bukan rahasia lagi. Salah satunya, tidak dipungkiri, bahwa bumi Indonesia memiliki cadangan emas yang menggunung. Mulai dari Sumatra sampai Papua. Inilah sebagian 'penguasa perusahaan tambang' itu.

Tambang Freeport. Seperti diketahui, tambang paling besar sampai saat ini adalah milik PT Freeport Indonesia. Tercatat, data 2018, Freeport memproduksi 6.065 ton konsentrat per hari. Jika dikonversikan, dalam sehari Freeport menambang 240 kilogram emas. Tambang bawah tanah Freeport bisa menghasilkan 3 juta ton konsentrat per tahun. Dari sisi cadangan, ini akan terus ada hingga kontrak Freeport berakhir di 2041.
Amman Mineral. Anda kenal nama Newmont? Ya, itulah nama baru dari Newmont, yang kini telah berganti nama menjadi Amman Mineral. Seperti dilansir dari CNBC Indonesia, medio 08/10/ 2019, ternyata produksi emas dari tambang batu hijau yang berada di Nusa Tenggara Barat ini dapat mencapai hingga 100 kilo Oz emas dan 197 juta pound tembaga setahun. Bahkan saat ini, Amman sedang melakukan fase tujuh atau tahap terakhir untuk menambang di batu hijau.

Dan berdasarkan laporan PT Medco Energi Internasional Tbk, induk usaha Amman Minineral Nusat Tenggara, fase tujuh bisa menggenjot produksi 4,47 miliar pon tembaga dan 4,12 juta ounce emas pada akhir 2020 atau awal 2021.

Inilah Tambang Martabe. Tambang emas yang berada di Sumatera Utara ini berada di bawah PT United Tractors Tbk (UNTR) sejak Agustus lalu. Dengan akuisisi, UNTR resmi menjadi 95% pemilik saham PT Agincourt Resources yang mengelola tambang emas Martabe. Produksi di tambang emas Martabe pada kisaran level 300 ribu-350 ribu ons/tahun.

Jumlah produksi di tambang tersebut stagnan selama dua tahun berturut-turut, sehingga perusahaan memproyeksikan produks di tahun depan masih akan sama. Kata Direktur Keuangan United Tractors, Iwan Hadiantoro. (CI/dos)
•image:istimewa/google



OPPORTUNITY
Berkembangnya teknologi pertanian organik, sangat memungkinkan untuk melakukan pola pertanian terpadu di  sektor peternakan ruminasia, terutama ternak kambing atau domba. Ternak jenis ini samasekali belum tersentuh regulasi, sehingga mekanisme pasar sepenuhnya ditentukan oleh faktor suplay dan demand. Terbukti sampai saat ini harga ternak kambing dan domba cenderung terus meningkat, sehingga...





Komentar & Pesan

Nama
Email *
Pesan *
Pesan dan komentar Anda tidak di publikasikan. Terimakasih.
_______________________________________          Adv
__________________________________________________ 
WAKTU SAAT INI:
Follow:
Facebook  Twitter  Instagram  Youtube