10/16/2019

Bisnis sukses:



Ternak Kambing Organik Tanpa Ngarit dan Berbau: Modal Rp. 40 Juta 3 Tahun Jadi Rp. 3,1 Milyar

Opportunity 

|| peluang 
   
Berkembangnya teknologi pertanian organik, sangat memungkinkan untuk melakukan pola pertanian terpadu di  sektor peternakan ruminasia, terutama ternak kambing atau domba. Ternak jenis ini samasekali belum tersentuh regulasi, sehingga mekanisme pasar sepenuhnya ditentukan oleh faktor suplay dan demand. Terbukti sampai saat ini harga ternak kambing dan domba cenderung terus meningkat, sehingga memungkinkan para peternaknya memperoleh keuntungan yang maksimal. 
Berbeda dengan kambing dan domba, margin keuntungan ternak unggas ayam ras sudah dipatok oleh para pemain besar yang menguasai pasar industri pakan dan bibit DOC-nya. Begitu juga  dengan ternak sapi, selain sangat tergantung dengan bibit bakalan yang diimpor oleh para pemain besar, juga skala usahanya masih sangat terbatas -- kebanyakan hanya dimiliki oleh peternak kecil atau skala rumah tangga.  
Dengan pola peternakan modern yang memakai pakan fermentasi dan konsentrat yang memadai, memungkinkan para peternak untuk memiliki ternak kambing atau domba dalam jumlah lebih banyak. Karena selain tidak lagi mengandalkan pakan hijaun yang mengharuskan peternak ngarit seharian,   juga bisa memanfaatkan lahan terbatas tetapi bisa dipacu dengan hasil maksimal, serta kondisi kandang yang tidak mencemari lingkungan -- tidak lagi berbau lagi.
Pola peternakan modern yang memanfaatkan produk bakteri fermentasi ini, sekarang produknya sudah banyak beredar di pasaran, seperti  produk cair bakteri pada larutan EM4, Starbio, Naza, maupun SOC yang memungkinkan pertumbuhan bobot ternak kambing atau domba bisa mencapai 2 – 4 Kg per 10 harinya. Hal ini seperti diungkapkan pihak PT Hidup Cerah Sejahtera (HCS) dalam program pelatihan kemitraannya dengan para peternak.   
Ternak Skala Kecil 30 Ekor
    Untuk memenuhi skala keekonomian, peternak kecil kambing atau domba bisa memulai usahanya dengan peternakan penggemukan 30 ekor yang diinvestasikan setiap bulan 10 ekor berturut-turut selama tiga bulan. Bibit kambing atau domba bakalan tersebut berusia  4 bulan atau dengan bobot berkisar 16 – 18 Kg per ekornya.
   
Image:ist/google
Setelah masa penggemukan tiga bulan, dengan pakan fermentasi dan konsentrat 19% menjadikan bobot kambing per ekornya rata-rata tumbuh hingga berkisar  46 Kg. Sehingga dengan modal sekitar Rp 40 juta yang diinvestasikan dalam tiga bulan, maka pada bulan keempat dan seterusnya akan memperoleh keuntungan panen   setiap bulannya sekitar Rp 13,5 juta, seperti tertera pada tabel perhitungan usaha berikut ini: 


Tabel – 1.
Peternakan Kecil Penggemukan Kambing/Domba
Bibit Bakalan Skala Terbatas 30 Ekor
*) Biaya pakan Rp 100.000,- per ekor/3 bulan

Dasar Perhitungan Penggemukan Berkelanjutan
Dari pola pengemukan skala kecil, bisa langsung dipadukan dengan pola penggemukan peternakan berkelanjutan, yaitu dengan modal minimal hanya satu atau tiga ekor kambing/domba bibit bakalan akan  menghasilkan panen yang fantastis dalam jangka periode masa panen tertentu. Sudah tentu artinya menunda panen ternak setiap tiga bulan sekali (satu periode panen), menjadi panen raya dengan waktu satu setengah tahun (panen ke enam). Namun demikian, setiap masa panen tiga bulan sekali masih tetap memperoleh keuntungan dari penjualan kambing/domba yang digemukan, tetapi hanya mengambil laba yang sudah dikurangi investasi lanjutan untuk pembelian bibit bakalan kambing/domba dua kali lipat dari periode penggemukan sebelumnya, termasuk  biaya pakannya. 
Untuk menghitung keuntungan yang fantastis di masa panen ke enam (6) tersebut, sebelumnya dihitung terlebih dahulu perkiraan keuntungan penggemukan kambing/domba per ekornya dalam setiap periode masa panen tiga bulan sekali itu.  Berdasarkan perhitungan tabel di bawah ini, dengan mengabaikan biaya kandang, maka setiap ekor kambing/domba bakalan yang digemukan dalam tiga bulan akan meraih keuntungan sekitar Rp 500.000 per ekornya.
°image:ist/google

______________
PENAWARAN














    •  🔴